Barangkali, KITA pernah mendapat gelar seperti judul di atas, dari teman-teman kita, baik teman kos, teman sekolah, teman kuliah, teman kerja ataupun teman kita bergaul. Biasanya, gelar sok Alim tersebut diberikan kepada seseorang, terutama bila seseorang tadi terlihat lebih alim. Bisa berupa perubahan perilaku, dan atau penampilan, dari yang tadinya agak sembarangan, norak, pake tato (kalau ada), sukanya ngrokok, bahkan minum minuman keras (es kali ya?), trus tiba-tiba terlihat sembahyang di mushola, memakai pakaian rapi, dan berusaha menjauhkan diri dari kemaksiatan. Bila ada teman ngajak: “Yuk beli minuman (keras) yuk…!” trus kitanya nanggepin, “Wah sekarang gue udah tobat, gak mau lagi kayak begituan…”. Maka yakin deh, gelar sok alim bakal kita dapatkan. Atau, suatu ketika di sekolahan, kita mengingatkan seorang teman yang merokok atau bahkan mencontek, untuk menghentikan aksinya. Boleh jadi, kita juga akan mendapat gelar sok alim. “Wah, Sok Alim Loe…!
Ya, boleh jadi banyak yang minder mendapatkan gelar “sok Alim”, sehingga tak jarang mereka yang tadinya ingin berubah menjadi lebih baik itu, kemudian surut langkahnya dan memutuskan untuk kembali menapaki masa lalunya yang semu temaram. Merasa bahwa perubahannya sia-sia belaka, meski sebetulnya ia baru mencicipi saja, belum sampai pada asyiknya perjalanan yang sebenarnya. Ada pula orang yang ingin melakukan sesuatu, yang sebenarnya baik dan mendatangkan pahala, namun karena takut mendapat gelar sok alim, akhirnya urung dilakukan. Bila yang terjadi seperti ini maka perlu ditanyakan kembali, apa sebenarnya visi hidup kita. Apakah kita akan terus menerus mendengarkan ucapan-ucapan negative itu? Ataukah kita harus menganggapnya angin lalu saja?
Pada hakikatnya, seseorang yang menggelari orang lain dengan sebutan sok alim, sebetulnya dia sendiri sedang punya masalah. Seorang Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, menceritakan kisahnya dulu ketika di SMA gencar mengajak temen-temennya berbuat kebaikan, ia juga dikatai “ Wah sok alim loe!” Dengan enteng dia jawab: “Dari pada eloe, sok kafir..!”. ya begitulah…. Orang yang menganggap orang lain sok alim, sebenarnya dia sendiri sedang punya masalah, yang ternyata dia sendiri tidak menyadarinya: “Sok kafir…!”
Maka, sekarang tinggal ada dua jalan di depan kita, ketika kita ingin berubah menjadi lebih baik. Yaitu dikatakan “sok alim” kemudian membuktikan bahwa kita selanjutnya memang bertekad untuk alim dan semoga menjadi orang alim, yang lurus, yang diberkahi, atau kemudian menjadi “sok kafir”, orang yang stagnan, tidak berubah, bahkan menghalangi orang lain untuk berubah, dengan mengolok-ngolok temannya yang ingin berubah dengan sebutan sok alim. Berbeda dengan sok alim, orang yang sok kafir, tidak senang dengan usaha temannya untuk menjadi baik, selalu ada komentar miring terhadap perilaku baik orang lain. Orang yang sok kafir, sebenarnya juga sedang menutup dirinya untuk menjadi alim, karena dia sudah terlanjur menganggap dirinya “kafir” dan tidak akan bisa alim. Sebagai kompensasinya dia tidak ingin orang lain lebih alim daripada dirinya. Maka mulai saat ini, perhatikan tingkah laku da ucapan kita, pernahkah kita bersikap sok kafir? Menghambat orang lain untuk berbuat baik degan mengolok-oloknya? Atau jangan jangan membiarkan teman kita berbuat kedzaliman, hanya karena kita takut dibilang sok alim? Jika memang iya, boleh jadi penyakit sok kafir sedang menjangkit. segeralah berantas… dan jangan mau lagi jadi sok kafir..!
SAY NO TO SOK KAFIR…!