Dengan membaca judul di atas saja, mungkin kita sudah tidak ingin ditanya dengan pertanyaan demikian. Apalagi jika tahu bahwa saqar itu adalah nama neraka, tentu kita lebih tidak ingin lagi pertanyaan itu diajukan kepada kita. Sebaliknya, tentu kita berharap menjadi orang yang bertanya, karena ini adalah pertanyaan ahli surga terhadap para penghuni saqar (Q.s. al-Muddatstsir [74]: 38-56). Dari sini kita akan tahu sebab-sebab mengapa mereka masuk ke dalam saqar seperti yang difirmankan Allah dalam Q.s. al-Muddatstsir [74]: 42-47:
1. Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,
2. kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,
3. kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,
4. kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.
Secara garis besar, ada 4 sebab yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam saqar menurut ayat di atas. Jika kita teliti lebih jauh lagi, sebenarnya ada 3 macam hubungan yang harus kita penuhi agar kita terbebas dari saqar.
1. Hubungan kepada Allah (hablu minallah)
2. Hubungan kepada manusia(Hablu minannas)
3. Hubungan kepada diri sendiri (hablu minannafs)
Untuk lebih rinci akan dibahas di bawah ini:
1. Hubungan kepada Allah (hablu minallah)
Ayat 43 yangberbunyi "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,” mengisyaratkan hubungan antara manusia dengan penciptanya (Allah). Jika ini tidak terpenuhi dengan baik, maka kita akan rentan untuk singgah di neraka saqar.
Shalat merupakan tiang agama, "Pangkal segala hal adalah Islam. Sedangkan tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah." (HR. Tirmizi, dari Mu'az bin Jabal. Ia berkata, "Hadits ini adalah hasan sahih.")
Selain itu, shalat jugalah parameter yang membedakan apakah kita termasuk orang islam atau bukan. Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda, "Batas antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan shalat." (HR. Muslim, Ahmad dan Ashab As-Sunan selain Nasa'i)
Jadi jika kita tidak shalat, maka sebenarnya keislaman kita sudah batal karena shalat adalah hal pokok yang membedakan kita dengan orang kafir, dalam hadist lain disebutkan, "(Yang menghilangkan pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim)
Shalat adalah juga wasiat terakhir yang diamanatkan Rasulullah SAW kepada umatnya menjelang akhir hayatnya. Pada saat-saat hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir beliau bersabda, "Jagalah shalat, jagalah shalat, juga hamba sahayamu!" (HR. Abu Daud dari Ali dan Ibn Majah dari Anas)
Karenanya, jagalah shalat kita. Jangan hanya karena urusan sepele, kita kehilangan status kemusliman kita. Namun demikian, habluminallah yang baik tentu saja tidak hanya kita wujudkan lewat shalat, masih banyak lagi kewajiban yang harus kita tunaikan, di samping lebih banyak lagi hak serta nikmat yang bisa kita rasakan.
2. Hubungan kepada manusia(Hablu minannas)
Dalam ayat ke-44 disebutkan, “dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,”. Hal ini mengisyaratkan adanya pemenuhan hubungan yang baik terhadap sesama manusia. Caranya adalah dengan menolong sesama.
Alquran merumuskan apa yang wajib dizakati itu dengan rumusan yang sangat umum, yaitu dengan kata-kata "kekayaan", seperti firman-Nya: "Ambillah olehmu zakat dari kekayaan mereka, engkau bersihkan dan engkau sucikan mereka dengannya." (At-Taubah: 103). Dan firman Allah SWT, "Di dalam kekayaan mereka terdapat hak peminta-peminta dan orang yang melarat." (Adz-Dzariyat: 19).
Di sini islam mengajarkan kepada kita tentang kepedulian. Hubungan yang baik dengan sesama akan menjauhkan kita dari peluang terjatuh ke dalam saqar.
3. Hubungan kepada diri sendiri (hablu minannafs)
Sementara itu pada ayat ke-45 disebutkan bahwa alasan yang memasukkan orang-orang itu ke dalam saqar, “dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya” mengisyaratkan adanya pemenuhan hubungan yang baik terhadap diri sendiri. Dari mana kesimpulan ini di dapatkan?
Jadi begini, orang yang membicarakan sesuatu yang bathil bersama dengan yang membicarakannya, salah satunya bisa berwujud dalam bentuk “menggunjing” orang lain. Ketika seseorang menggunjing, sebenarnya ia sedang tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Ia dengan bangga membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain dan menutup mata atas kesalahan dan kelemahan-kelemahannya sendiri. Ibarat pepatah, gajah pelupuk mata tidak tampak, semut diseberang lautan tampak. Inilah bentuk tidak baiknya hubungan dengan dirinya sendiri.
Menggunjing adalah hal yangtidak bermanfaat, sedangkan Islam mengajarkan bahwa kita harus menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya).
Selain itu, islam juga melarang kita untuk tidak berada dalam sebuah forum yang membicarakan hal bathil, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (Q.s. an-Nisâ` [4]:140)
Hal yang bathil di sini bisa bermakna banyak, bisa menggunjing, mengolok-olok Allah dan rasul-Nya (termasuk dengan mengejek orang yang menjalankan perintah Allah, misalkan ada orang yang berjenggot atau bercelana congklang kemudian kita menghinanya, maka jika ia berjenggot atau bercelana congklangnya itu adalah karena mengikuti sunnah Allah dan Rasul-Nya, maka sejatinya kita sedang mengolok-olok/ menghina Allah dan Rasul-Nya). Oleh karena itu berhati-hatilah..
Selain ketiga hal di atas, pada surat Q.s. al-Muddatstsir [74]: 46 tersebut juga memberikan satu peringatan agar kita tidak terjerumus ke dalam saqar, karena hal keempat yang menjerumuskan mereka adalah, “dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,”. Hari pembalasan adalah satu diantara banyak hal yang Allah sandingkan dengan keimanan kepada Allah. Misalnya dalam hadist berikut: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist di atas, setelah beriman kepada Allah diikuti beriman kepada hari akhir. Hal ini menunjukkan pentingnya keimanan terhadap hari akhir ini. Sehingga tidak selayaknya kita mendustakannya.
Ya, itulah empat alasan mengapa orang-orang itu mendapatkan pertanyaan: Maa salakakum fii saqar? (Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar?).
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?
" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, Hingga datang kepada kami kematian".
(Q.s. al-Muddatstsir [74]: 42-47)
Silakan diputuskan sendiri, mau jadi orang yang bertanya atau yang ditanya…
Wallahu a’lam
Disusun ulang dengan penambahan dari ceramah Ust. Syatori Abdurrauf (pengasuh pondok pesantren Darush Shalihat: kajian jelajah kamis sore ba’da ashar di DS, berjudul hakikat kebahagiaan, tanggalnya lupa)