Setelah menjelaskan dengan saksama, dan para jamaah yang sebagian besar adalah orang-orang tua itu kelihatan paham, Mbah Marto mempersilakan para hadirin untuk bertanya bila memang ada yang ingin di tanyakan. Sejenak suasana menjadi hening. Kembali Mbah Marto mempersilakan bila masih ada yang ingin bertanya. Namun sampai agak lama agaknya tidak ada yang bertanya, hingga ia memutuskan untuk mengakhiri forum itu. Tiba-tiba seorang anak kecil, berusia 10 tahunan berdiri dan berseru…
“Mbah… saya mau Tanya boleh?” katanya pelan.
“Boleh, silakan…” jawab Mbah Marto.
“Mbah, kemarin di desa tetangga sana ada orang islam meninggal tapi kok tidak dishalatkan, sebabnya apa Mbah? Bukankah menyalatkan orang yang meninggal itu wajib hukumnya?” Tanyanya penasaran, ia benar-benar tidak tahu mengapa hal itu sampai terjadi.
Mbah Marto menarik nafas panjang, ia mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin, dan dengan tenang ia menjawab, “Ooo.. apa kamu tau tetangga desa yang meninggal kemarin sebabnya apa?”
Anak itu menggeleng, ia hanya mendengar kabar itu dari teman-temannya di sekolah tadi pagi dan tidak sampai bertanya tentang sebabnya.
Mbah Marto melanjutkan, “Kalau begitu Simbah beritahu.. tetangga desa kemarin itu meninggal karena bunuh diri sehingga kemarin tidak dishalatkan oleh para warga.”
Anak itu penasaran dan bertanya “Memangnya kalau bunuh diri tidak boleh dishalatkan yam Mbah?”
Mbah Marto lalu menerangkan bahwa menurut hadis riwayat imam Muslim, dahulu pernah dibawa kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam seorang laki-laki yang mati bunuh diri dengan tombak, lalu beliau tidak menshalatkannya. Inilah yang menjadi dasar para warga tersebut untuk tidak menyalatkannya. Selain itu Mbah Marto juga menyampaikan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan imam Muslim: “Barang siapa yang bunuh diri dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan dipegangnya untuk menikam perutnya di neraka Jahanam. Hal itu akan berlangsung terus selamanya. Barang siapa yang minum racun sampai mati, maka ia akan meminumnya pelan-pelan di neraka Jahanam selama-lamanya. Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan jatuh di neraka Jahanam selama-lamanya.”
“Gimana Le, Sudah paham?” tanyanya setelah menerangkan panjang lebar.
Anak itu mengangguk-angguk tanda paham, namun sejenak kemudian berkata lagi “ Mbah, tadi disebutkan kalau ada orang minum racun sampai mati, itu juga bunuh diri, dan dineraka ia juga akan minum racun terus menerus, ya?” Anak itu seperti meminta pendapatnya dibenarkan.
“Ya.. betul, Le..” tegas Mbah Marto.
“Lalu kalau minum racunnya sedikit-sedikit, apakah itu juga termasuk bunuh diri Mbah?”
“Mau sedikit atau banyak, kalau itu sengaa diminum dengan sadar tanpa paksaan ya itu bunuh diri namanya… Lha wong sudah tahu racun kok nekat tetap diminum..” Jelas mbah marto mantabhh.
“Hmm…..kalau begitu….e…” anak itu seperti hendak bertanya lagi, namun agak bingung.
“Kalau begitu apa?” Mbah Marto mencoba menguatkan anak itu untuk bertanya.
“Kalau begitu orang-orang yang merokok itu juga termasuk bunuh diri ya, Mbah? Tanya anak itu ragu.
Mbah Marto serasa terkena sambaran halilintar oleh pertanyaan anak ini, ia hendak marah..bagaimana anak ini bisa mengambil kesimpulan semacam ini. Dan terutama ini disebabkan karena ia sendiri pun juga adalah seorang perokok berat. Para Jamaah pengajian pun juga tak kalah hebohnya… mereka pada berbisik-bisik tak karuan dan mencela anak ini “jangan Ngawur kamu Le…!’ Mana Ada ayat dalam al-quran yang mengharamkan rokok, Iya Kan Mbah..! sergah seseorang sok tahu.. disusul suara jamaah lainnya yang mengiyakan.
Mbah Marto yang dari tadi juga kaget mendengar pertanyaan ini mencoba mengendalikan situasi dan dengan tenang berkata “Hmmmm..terus terang Simbah kaget dengan pertanyaan kamu ini, tapi dari mana kamu mendapatkan kesimpulan seperti ini?”
Anak itu agak gelisah, ia hanyalah anak kecil yang pikirannya terlalu polos, sehingga ia hanya menggunakan pikiran polosnya itu untuk menyimpulkan, tetapi kemudian ia segera menjawab, “ tadikan Simbah bilang kalau orang yang minum racun sampai mati, itu juga bunuh diri, dan dineraka ia juga akan minum racun terus menerus. Nah, Kemarin Bu Guru di sekolahan bilang kalau rokok itu mengandung racun dan berbahaya bagi orang yang menghirup asapnya, bisa menyebabkan penyakit-penyakit yang parah sampai orangnya bisa meninggal. Jadi menurut saya, kalau ada orang merokok dan mati karena penyakitnya itu, sebenarnya ia bunuh diri dengan minum racun sedikit-sedikit. Dan karena itu juga tidak usah dishalatkan... bukankah begitu Mbah?”
Muka-muka para jamaah kelihatan gelisah dan tegang. Pun begitu, Mbah Marto juga tidak kurang tegangnya. Mbah Marto seperti ditampar dengan penjelasan yang kelihatannya Cuma pikiran anak polos ini. Ia menangkap kebenaran dalam perkataan anak ini. Apakah ia ingin bersikap sombong dengan menolak kebenaran. Bukankah rasulullah sudah mengingatkan bahwa sombong itu adalah “menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”, bukankah rasul memerintahkan untuk mengambil hikmah dimanapun ia ditemukan, meskipun juga ia datang dari anak kecil?
Setelah agak diam beberapa lama Mbah Marto tersenyum memandang anak itu dan berkata “Matur Nuwun Le.. sudah diingatkan… iya Simbah baru sadar kalau ngrokok itu ternyata termasuk bunuh diri meski minum racunnya dikit-dikit.. dan nanti kalau mati terancam tidak ada yang mau menshalatkan…, Hmmm.. Kira-kira bapak-bapak disini ada tidak yang kalau mati nanti tidak mau dishalatkan?”
Sejenak, mereka saling pandang hingga Mbah Marto mengulangi pertanyaannya. Kali ini mereka menjawab kompak “Tidak Mbah…”
Ya… sejak saat itu mereka bertekad untuk tidak akan merokok lagi untuk selama-lamanya… Meskipun sebenarnya, racun-racun itu bukan hanya terdapat di dalam rokok saja. Banyak Benda-benda konsumsi lain yang mempunyai sifat racun yang sama…
*******************************
Begitulah…
Hmm… adakah di antara kita yang kalau mati nanti tidak ingin dishalatkan? Bukan sebab mati syahid, tapi Mati sangit.”