Harga Kertas naik 30%. Harga buku naikkah?

Tren harga kertas, sebenarnya memang sudah mengalami kenaikan sejak periode Februari-Maret lalu. Sebuah percetakan di Jogja bahkan sudah memberitahukan bahwa tarif cetak mulai periode Maret naik sebesar 10% dari harga sebelumnya. Namun demikian, beberapa percetakan masih memberlakukan harga lama karena masih melihat bahwa kenaikan yang terjadi tidak terlalu memengaruhi keuntungan, paling tidak masih ada keuntungan yang bisa didapatkan meski tidak menaikkan tarif.

Namun, dengan adanya Pilkada yang dilakukan secara hampir bersamaan di Indonesia, permintaan kertas juga melonjak. Hal ini tentu berpengaruh pada naiknya harga kertas. Pada periode akhir  bulan ini, kenaikannya telah mencapai 30%. Dengan kenaikan yang cukup besar ini, maka mau tidak mau percetakan akan menaikkan tarifnya (lagi) jika mereka tak ingin merugi, sehingga akhirnya hal ini juga berdampak pada industri perbukuan nasional. Karena tidak menaikkan harga, hal itu berarti bahwa penerbit harus siap menanggung rugi.

Di tengah lesunya penjualan buku atau lebih tepatnya terbatasnya kue yang diperebutkan oleh banyak penerbit (lihat artikel sebelumnya oleh Mas Bambang Trim), industri buku nasional masih dihadapkan pada persoalan kenaikan harga. Merupakan sebuah dilema antara menaikkan harga buku dengan risiko pendapatan semakin sepi, atau mempertahankan harga dengan risiko terpangkasnya keuntungan atau bahkan merugi karena pendapatan tidak menutupi ongkos produksi.

Pengalaman krisis sebelumnya mengajarkan kepada para penerbit untuk menggunakan kertas 60 gram sebagai ganti kertas 70 gram sebagai siasat melawan kenaikan harga kertas. Namun, sepertinya strategi ini tidak mungkin diterapkan lagi, mengingat kebanyakan buku sudah menggunakan kertas 60 gram. Tidak mungkin untuk menurunkannya menjadi 50 gram.

Barangkali, kenaikan harga merupakan langkah yang paling obyektif untuk dilakukan. Kabar baiknya, kenaikan ini hanya akan berimbas pada buku-buku yang diterbitkan setelah Maret atau April, sehingga dampaknya baru akan kita rasakan satu hingga dua bulan ke depan. So, masih ada kesempatan untuk berbelanja di sini tanpa harga naik..

Opini seorang pengamat perbukuan (yang mencoba profesional)

Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt.

Disqus Comments