Bandingkan dengan rumah maya yang hampir tidak ada hal positif dalam postingan-postingannya. Sebagian besar hanya berisi ungkapan-ungkapan keluh kesah, umpatan, makian sampai mengumbar aib sendiri pada orang banyak. Ia merasa senang ketika keluh kesah dan aib-aib yang ia ungkapkan itu semua mendapat tanggapan.
Pada fenomena pertama, boleh jadi sebenarnya sang pemilik rumah tidaklah seideal isi postingan-postingannya, tetapi dia sedang bertekad, berproses dan berharap untuk menyelaraskan dirinya dengan isi postingan-postingannya. Adapun apakah proses itu cepat atau lambat, itu adalah sebuah keniscayaan dalam berproses. Hanya saja, orang-orang terlanjur mengenalnya sebagai orang baik.
Lantas apakah ini bermasalah?
Sampai di situ tidak bermasalah. Masalahnya baru timbul jika kemudian sang pemilik rumah tertipu dan terbuai dengan gelar “orang baik” yang disematkan padanya. Sehingga, ia lupa bahwa esensi awal dan prioritas utama dia memosting tulisan adalah untuk memperbaiki dirinya, syukur-syukur kalau ada yang baca postingannya lalu ikut jadi baik, maka itu adalah hidayah dari Allah ( dan insya Allah dia mendapatkan keutamaannya). Namun, jika seseorang sudah terbuai, maka efek yang timbul adalah ia akan berhenti berproses dan akhirnya memosting tulisan-tulisan yang baik, hanya agar dikatakan baik. Nah, di sinilah yang saya sebut postingan “munafik.” Tanda kutip tetap saya pakai, karena ini masih gejala yang menjurus ke arah yang lebih parah.
****
Nah, pada fenomena kedua. Kita bisa melihat sang empunya rumah seringkali memosting hal-hal yang remeh-temeh. Apa saja yang ada di batok kepalanya akan ia tuliskan, tanpa mempertimbangkan apakah itu layak dikonsumsi publik atau tidak. Alhasil, tak jarang yang keluar adalah keluh kesah, kekecewaan, hingga kadang ia secara tidak sadar mengumumkan aib-aibnya.
Di satu sisi, ini terlihat sangat alami. Bahwa apa yang diposting adalah sesuai dengan kondisi yang bersangkutan. Dalam hal ini saya menyebutnya postingan “jujur.” Jika percikan-percikan isi kepala itu ditulis di catatan pribadi kita, boleh jadi tidak bermasalah. Karena hal itu tidak akan tersebar. Namun, kebutuhan akan eksistensi, keinginan untuk diakui oleh orang lain itu, ternyata lebih besar mengendalikan kita. Sehingga kita tergoda menuliskan hal-hal yang sebenarnya hanya cocok untuk konsumsi pribadi dan orang-orang tertentu, pada postingan-postingan kita.
Ya, fenomena rumah maya memang menarik. Orang bisa menuliskan apa saja di sana, tetapi satu hal, yaitu mereka harus siap jika tulisan itu dibaca oleh oang lain. Sayangnya, tak sedikit yang kurang menyadari hal ini, atau menyadari tapi memilih tidak mau tahu. Bahkan kemudian menikmati setiap komentar dari hal-hal “pribadi” yang diposting itu. Lambat laun, karena mendapat respon dari para pengunjung, ia lantas dengan bangga memosting segala apa yang ada di kepalanya. Aib-aib alias kejelekan-kejelekan dirinya yang tidak seharusnya diketahui orang lain, dengan perasaan biasa saja ia posting.
Jika maksud postingan itu adalah untuk meminta saran, hal ini barangkali tidaklah mengapa asal dia yakin bahwa respon yang ia terima nantinya benar-benar solutif, jika tidak maka sebenarnya ia sedang mengumbar aib. Padahal, yang namanya aib itu adalah untuk ditutupi. Jika yang punya aib saja mengumbarnya, maka jangan salahkan jika aib-aib itu dibicarakan oleh oang lain.
****
Nah, menanggapi dua fenomena isi postingan di atas, apa langkah terbaik kita? Saya tidak akan banyak menyarankannya di sini selain dengan meluruskan kembali niat kita ngempi. Bagi yang sedang berusaha berproses menjadi baik bersama postingan-postingan baik (yang mungkin terkesan munafik), waspadalah agar jangan sampai terbuai dengan gelar “orang baik” yang kita terima dari tetangga-tetangga kita. Sementara bagi yang benar-benar susah mengontrol isi postingannya, mungkin kita bisa belajar-bersama-sama untuk memilah dan memilih mana “kejujuran” yang layak posting dan mana yang tidak.
Semoga, kita senantiasa dibimbing Allah dalam hal ini, di mana saja, dan kapan saja.
****
postingan asli saya dari http://farikhsaba.multiply.com/journal/item/227